SOREANG EKSPRES – Umat Muslim di daerah Indonesia tengah mempersiapkan diri menyambut Ramadan 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada Maret 2026. Selain memantapkan kesiapan ibadah, masyarakat juga kembali menghidupkan tradisi khas Nusantara yang sarat makna, yakni Munggahan atau Punggahan.
Tradisi ini bukan sekadar agenda tahunan menjelang puasa. Munggahan menjadi simbol rasa syukur dan kebahagiaan kolektif atas kesempatan kembali bertemu bulan suci. Biasanya dilaksanakan mulai sepekan hingga sehari sebelum 1 Ramadan, masyarakat merayakannya dengan makan bersama keluarga besar, berkumpul bersama kerabat, hingga menggelar doa bersama dan tahlil di masjid maupun mushalla.
Tidak Bertentangan dengan Syariat
Sejumlah ulama menegaskan bahwa Munggahan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Justru tradisi ini menjadi sarana dakwah kultural yang efektif. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat sejalan dengan ajaran agama, seperti sedekah makanan, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan semangat dan kegembiraan menyambut bulan penuh ampunan.
Dalam literatur keislaman, kebahagiaan menyambut Ramadan memiliki keutamaan tersendiri. Dalam kitab Durrotun Nasihin disebutkan hadis:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ
“Barang siapa bergembira dengan datangnya Ramadan, maka Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka.”
Hadis tersebut memperkuat makna bahwa menyambut Ramadan dengan penuh sukacita adalah bentuk kesiapan hati. Melalui Munggahan, umat Islam mengekspresikan rasa syukur sekaligus memantapkan niat untuk menjalani ibadah puasa secara maksimal selama satu bulan penuh.
Makna Munggahan dari Sisi Bahasa dan Filosofi
Secara etimologis, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “munggah” merujuk pada hari terakhir bulan Ruwah atau Syakban, tepat sebelum memasuki Ramadan. Sedangkan “munggahan” berarti kegiatan berkumpul dan makan bersama dalam rangka menyambut bulan suci.
Dalam bahasa Jawa, kata “munggah” berarti “naik”. Secara filosofis, istilah ini menggambarkan proses peningkatan kualitas spiritual. Ramadan dipandang sebagai puncak dari rangkaian bulan mulia sebelumnya, yakni Rajab dan Syakban.
Makna “naik” ini menjadi simbol ajakan untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta menyucikan hati. Ramadan bukan sekadar pergantian bulan, tetapi momentum elevasi spiritual menuju ketakwaan yang lebih tinggi.
Tiga Hikmah Utama Tradisi Munggahan
- Ungkapan Syukur atas Nikmat Umur
Tidak semua orang mendapat kesempatan bertemu kembali dengan Ramadan. Karena itu, Munggahan menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat usia dan kesehatan. Dengan berbagi makanan dan kebahagiaan, umat Islam menyadari bahwa kesempatan beribadah di bulan suci adalah anugerah besar yang tak ternilai.
- Mempererat Tali Silaturahmi
Di tengah kesibukan kehidupan modern, Munggahan menjadi momen penting untuk berkumpul. Tradisi ini mempertemukan keluarga, tetangga, dan kerabat dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Sekat sosial pun mencair, hubungan yang renggang kembali terjalin erat.
- Ajang Saling Memaafkan
Sebelum memasuki Ramadan, umat Islam dianjurkan membersihkan diri lahir dan batin. Munggahan menjadi waktu yang tepat untuk saling meminta maaf dan memperbaiki hubungan antarsesama (hablum minannas). Dengan hati yang bersih, ibadah puasa dapat dijalankan dengan lebih khusyuk dan penuh ketenangan.
Melalui Munggahan, wajah Islam Nusantara tampil ramah dan penuh kasih. Tradisi ini menunjukkan bahwa nilai agama dan budaya dapat berjalan beriringan, menciptakan harmoni yang memperkuat identitas kebangsaan sekaligus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.***













