Danone Indonesia–IPB University Kolaborasi Cetak Nutrisionis Adaptif, Perkuat Praktik Berbasis Sains

JABAR EKSPRES– Tantangan gizi dan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks mendorong kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga adaptif dan aplikatif di lapangan. Menjawab kebutuhan tersebut, Danone Indonesia resmi menjalin kerja sama dengan IPB University dalam penyelenggaraan Program Praktik Kerja Profesi (Internship) bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Nutrisionis.

Kolaborasi ini dilakukan bersama Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University melalui divisi Healthcare Nutrition (HN) Danone Indonesia, unit yang berfokus pada pengembangan ilmu gizi serta implementasi program edukasi kesehatan masyarakat berbasis bukti.

Di tengah dinamika isu stunting, malnutrisi, hingga meningkatnya penyakit tidak menular, peran ahli gizi atau nutrisionis kini dituntut semakin komprehensif. Tak sekadar memahami teori, mereka juga harus mampu mengomunikasikan sains secara efektif serta berkontribusi dalam program edukasi berbasis riset.

Dekan Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. dr. Ivan Rizal Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, SpOG menyampaikan bahwa kolaborasi ini mencerminkan komitmen IPB dalam mengembangkan pendidikan profesi agar lebih responsif terhadap tantangan kesehatan saat ini dan kebutuhan masyarakat.

“Sebagai institusi pendidikan, kami memiliki tanggung jawab menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmunya secara nyata dan berdampak,” ujarnya.

Ia menambahkan, Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB memiliki peran strategis dalam memperkuat pendekatan kesehatan yang terintegrasi—di mana kesehatan manusia, lingkungan, dan sistem sosial saling berkaitan dan menjadi prioritas utama.

BACA JUGA:  Honda West Java Heritage Ride: Menjelajahi Warisan Jabar Bersama Line Up Motor Matic Premium Honda

“Melalui program ini, mahasiswa dapat memahami bagaimana riset dan pendekatan berbasis bukti dijalankan secara profesional di industri kesehatan. Kami berharap para lulusan, nantinya dapat berperan di layanan primer, mampu menjembatani teori dan implementasi di masyarakat serta menghadirkan kontribusi yang terukur bagi kesehatan publik,” paparnya.

Sepanjang 2026, program praktik kerja profesi ini akan melibatkan mahasiswa Pendidikan Profesi Nutrisionis dalam beberapa gelombang. Tidak hanya melakukan observasi dan pendampingan profesional, para peserta juga akan terlibat aktif dalam penyusunan konten edukasi berbasis sains, pengembangan materi komunikasi seperti infografis, penyelenggaraan diskusi dan webinar, hingga layanan konsultasi gizi bagi karyawan dan masyarakat.

Sasaran edukasi pun beragam, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, hingga ibu dengan balita—kelompok yang menjadi prioritas dalam peningkatan kualitas gizi keluarga. Skema ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman praktik yang terstruktur dan aplikatif, sekaligus memperkuat kesiapan mahasiswa dalam mengimplementasikan program kesehatan berbasis bukti di lingkungan industri.

Medical Science Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK mengatakan, kolaborasi ini menegaskan komitmen Danone Indonesia dalam memperkuat pengembangan SDM kesehatan yang adaptif dan berorientasi pada praktik nyata.

“Sebagai bagian dari komitmen global kami melalui Danone Impact Journey yang bertumpu pada pilar People, Health, dan Environment, kami percaya bahwa penguatan talenta kesehatan merupakan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan publik,” ujarnya.

BACA JUGA:  Kepala Adem Orderan Lancar! 5 Rekomendasi Helm Ojol Anti-Gerah Terbaik di Tahun 2026

Ia menegaskan, sebagai perusahaan yang berfondasi pada riset di bidang kesehatan dan nutrisi, pengembangan SDM kesehatan memerlukan sinergi erat antara dunia akademik dan industri.

“Kerja sama program praktik kerja ini membuka ruang pembelajaran aplikatif, di mana mahasiswa, khususnya program studi nutrisionis dapat terlibat langsung dalam riset, program screening kesehatan, serta inisiatif community development berbasis sains yang perusahaan jalankan dari sisi industri. Kami berharap pengalaman ini tidak hanya memperkaya perspektif mahasiswa, tetapi juga memperkuat kesiapan mereka menjadi nutrisionis yang kompeten secara teknis dan mampu menghadirkan solusi berbasis bukti yang relevan serta berdampak nyata bagi masyarakat,” tambah Dr. dr. Ray.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Nutrisionis IPB University, Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS menilai kolaborasi ini sebagai bentuk sinergi strategis antara dunia akademik dan industri.

“Kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat kompetensi nutrisionis, khususnya dalam aspek health promotion. Ke depan, nutrisionis tidak hanya berperan di layanan kesehatan, tetapi juga perlu aktif mengedukasi masyarakat melalui berbagai pendekatan, termasuk pemanfaatan platform digital. Kami berharap pengalaman ini membekali mahasiswa untuk menjadi nutrisionis yang adaptif, komunikatif, serta mampu menyampaikan pesan gizi secara tepat dan bertanggung jawab kepada masyarakat,” ujarnya.

Penandatanganan kerja sama ini menjadi fondasi awal kemitraan jangka panjang antara dunia akademik dan industri dalam memperkuat kapasitas nutrisionis Indonesia. Integrasi pembelajaran profesi dengan pemahaman implementasi program edukasi kesehatan di sektor industri menjadi bagian dari upaya sistematis membangun ekosistem layanan gizi yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

BACA JUGA:  AHM Best Student 2026 Regional Jawa Barat Lahirkan Pelajar Terbaik untuk Melaju ke Tingkat Nasional

Melalui kolaborasi ini, diharapkan lahir generasi nutrisionis yang tidak hanya memahami ilmu gizi secara teoritis, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi intervensi edukasi yang relevan, efektif, dan berdampak nyata bagi peningkatan kesehatan publik—khususnya dalam menjawab tantangan gizi di Indonesia ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *