SOREANG EKSPRES – Siapa sangka sariawan ternyata bisa menjadi salah satu tanda munculnya penyakit kanker, khususnya kanker mulut.
Hal ini disampaikan Ahli onkologi dari Karmanos Canser Institute, Ammar Sukari, MD, dimana salah satu gejala dari kanker mulut adalah sariawan yang tidak kunjung sembuh dalam waktu dua hingga tiga minggu.
Selama ini munculnya sariawan sering dikaitkan dengan kekurangan vitamin C, sehingga banyak orang mengabaikan dan hanya mengobatinya dengan memperbaiki asupan Vitamin C tanpa mengonsultasikannya ke dokter.
Jika memang sembuh. hal ini tidak menjadi masalah, namun untuk sariawan yang tidak merespon obat, bahkan lukanya semakin membesar dan disertai dengan bercak merah atau putih, juga terasa keras saat disentuh, maka hal ini membutuhkan perhatian dan kewaspadaan khusus, karena bisa dicurigai sebagai gejala awal dari kanker mulut.
Gejala lain yang bisa dideteksi dari kanker mulut diantaranya :
– Sariawan yang tidak kunjung sembuh dalam waktu dua hingga tiga minggu.
– Bercak yang berubah warna, bercak merah, atau bercak berbintik yang tidak dapat dijelaskan pada lidah, gusi, atau lapisan mulut.
– Kehilangan gigi tanpa sebab yang jelas.
– Benjolan atau pembengkakan yang menetap di bibir, pipi, gusi, atau di bawah rahang.
– Rasa sakit atau mati rasa yang tidak dapat dijelaskan pada bibir, pipi, atau gusi.
Salah satu yang bisa meningkatkan resiko kanker mulut, diantaranya pola makan yang buruk dapat mengubah keseimbangan bakteri alami di dalam mulut. Padahal, bakteri tersebut umumnya berperan dalam melindungi kesehatan.
Di dalam mulut terdapat lebih dari 700 spesies bakteri. Banyak di antaranya membantu menjaga kesehatan mulut dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Ketika keseimbangan komunitas mikroba tersebut terganggu, atau yang dikenal sebagai disbiosis, kondisi ini dapat memicu peradangan serta berbagai perubahan lain yang berkaitan dengan penyakit.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gangguan pada mikrobioma mulut mungkin berperan dalam perkembangan kanker mulut dengan memicu peradangan kronis serta menciptakan lingkungan yang memungkinkan sel-sel abnormal tumbuh.
Meskipun temuan ini masih tergolong baru, menjaga pola makan seimbang yang kaya akan buah, sayuran, dan makanan padat gizi lainnya dapat membantu mendukung kesehatan mikrobioma mulut.







