Sinergi Empat Kampus Jabar, 8 Prodi Dokter Spesialis dan Subspesialis Resmi Diluncurkan

Editor:

SOREANG EKSPRES – Upaya mempercepat pemenuhan dokter spesialis dan subspesialis di Indonesia kini memasuki babak baru. Empat perguruan tinggi di Jawa Barat resmi meluncurkan kolaborasi strategis pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (Sp1) dan Subspesialis (Sp2) tahun 2026, sebagai bagian dari agenda nasional pemerataan layanan kesehatan.

Empat kampus tersebut yakni Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Universitas Islam Bandung (Unisba), dan Universitas Kristen Maranatha. Kolaborasi ini menjadi model sinergi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang dirancang bukan untuk bersaing, melainkan saling menguatkan kapasitas akademik dan tata kelola.

Peluncuran digelar di Kampus Unpad, Dipatiukur, Rabu (18/2), dan dihadiri jajaran pimpinan kampus serta pemerintah pusat. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Khairul Munadi menegaskan bahwa pembukaan prodi ini merupakan jawaban atas kebutuhan nasional yang mendesak.

“Saat ini, total sudah terdapat 160 prodi pendidikan dokter spesialis di seluruh Indonesia. Sedangkan di wilayah Kota Bandung Jabar terdapat 8 program studi baru di empat kampus Unpad, Unjani, Unisba dan Universitas Maranatha,” ungkapnya.

Ia menyebut, kebutuhan dokter spesialis dan subspesialis di Indonesia masih sangat besar. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pemenuhan 148 program spesialis dan subspesialis untuk memperkuat layanan kesehatan nasional.

“Hari ini dilakukan peluncuran di wilayah Jabar, ada sekitar 8 prodi baru. Ada 5 (prodi) di Unpad kemudian masing-masing di Unisba 1, Unjani 1 dan juga di Maranatha 1. Dengan pembukaan prodi baru, ia berharap lulusan dokter spesialis dan sub spesialis dapat memenuhi kebutuhan dokter di seluruh Indonesia,” jelasnya.

BACA JUGA:  bank bjb Dorong Generasi Muda dan UMKM Naik Kelas Lewat Seminar Career Compass di Universitas Pasundan

“Selain itu, lulusannya nanti memiliki kompetensi yang kita sesuai bidangnya. Percepatan tetap saja memastikan mutu ataupun kualitasnya itu sesuai dengan kompetensi yang diminta itu bisa terpenuhi dengan baik,” tuturnya.

Jawaban atas Krisis Spesialis

Secara nasional, Indonesia masih menghadapi kekurangan signifikan dokter spesialis. Dari total dokter terdaftar, jumlah dokter spesialis baru berkisar 47–55 ribu orang, dengan rasio sekitar 0,17–0,21 per 1.000 penduduk. Angka ini masih jauh dari target ideal 0,28 per 1.000 penduduk sesuai standar pelayanan kesehatan nasional.

Artinya, Indonesia masih kekurangan sekitar 25.000–30.000 dokter spesialis untuk menjamin layanan kesehatan rujukan yang merata.

Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Barat merasakan langsung ketimpangan tersebut. Di sejumlah kabupaten/kota, ketersediaan dokter spesialis belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.

Model kolaboratif yang diusung empat kampus di Jabar ini dirancang sistemik: mulai dari penyelarasan kurikulum berbasis kompetensi sesuai regulasi nasional, sistem penjaminan mutu terintegrasi, supervisi akademik bersama, hingga optimalisasi rumah sakit pendidikan sebagai wahana klinis sesuai standar keselamatan pasien.

Peran Strategis Unpad

Rektor Unpad Prof Arief Kartasasmita menyampaikan bahwa selama ini Unpad menjadi salah satu institusi utama penyelenggara pendidikan dokter spesialis di Jawa Barat. Karena itu, keterlibatan Unjani, Unisba, dan Maranatha dinilai sebagai langkah strategis memperluas akses pendidikan spesialis.

“Saya pikir ini nanti kita bersama-sama menyusun program spesialis yang lebih baik untuk Jawa Barat dan nasional,” tandasnya.

BACA JUGA:  321 Sambungan Listrik Gratis PLN UID Jawa Barat Terangi Ramadan, Wujud Kepedulian untuk Warga dan Rumah Ibadah

Arief menambahkan, Unpad telah lama menjalin kerja sama dengan ketiga kampus tersebut. Ke depan, koordinasi akan diperkuat, termasuk penyamaan kurikulum dan langkah strategis pengembangan program. Dengan tambahan prodi baru, Unpad memperkirakan dapat meluluskan sekitar 160 dokter spesialis setiap tahun.

Secara nasional, Fakultas Kedokteran Unpad juga membuka 1 program pendidikan spesialis (Sp1) dan 5 program subspesialis (Sp2). Tak hanya itu, Unpad berperan sebagai pembina pembukaan 27 program studi spesialis baru di 13 fakultas kedokteran mitra di berbagai daerah, serta menjajaki pembukaan Sp1 di 37 rumah sakit pendidikan penyelenggara utama yang telah ditunjuk.

Spesialis Obgyn hingga Anestesiologi

Adapun program yang dibuka di Jawa Barat meliputi spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) di Unisba dan Maranatha. Sementara di Unjani dibuka program Anestesiologi dan Terapi Intensif. Unpad sendiri membuka sejumlah program spesialis dan subspesialis strategis.

Rektor Unisba Prof Harits Numan berharap pemerintah daerah turut merespons dengan mengirim dokter terbaiknya untuk melanjutkan pendidikan spesialis.

“Insyaallah Unisba akan menjalankan amanah ini tentu tidak hanya keilmuan Obgyn saja tapi kita punya spirit dokter paham tentang nilai nilai Islamnya sehingga saat terjun di masyarakat humanis, menjunjung nilai-nilai Islam dan unggul serta terampil dari sisi kompetensinya,” imbuhnya.

Senada, Rektor Universitas Maranatha Prof Umbu Datta berharap dukungan konkret dari pemerintah daerah agar percepatan pemenuhan dokter spesialis bisa segera terwujud.

BACA JUGA:  Staf KORMI Kab. Bandung Mengaku Bisa Bikin id Card Yang Dikeluarkan Dewan Pers, Gampang KTA Bikin Sendiri Bisa

Kolaborasi ini menegaskan bahwa percepatan tidak berarti mengabaikan mutu. Justru, dengan tata kelola bersama dan supervisi akademik terintegrasi, kualitas lulusan diharapkan tetap terjaga.

Lebih dari sekadar menambah angka, sinergi empat kampus ini menjadi simbol komitmen bersama membangun sumber daya manusia kesehatan yang kompeten, berintegritas, dan siap melayani masyarakat hingga pelosok negeri. Jika model ini berhasil, Jawa Barat bukan hanya menjadi provinsi dengan populasi terbesar, tetapi juga pelopor penguatan ekosistem pendidikan dokter spesialis di Indonesia. (*/ a1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *