Pelaku Orang terdekat, Angka Kekerasan Anak di KBB Naik

Penulis: Suwitno Gimnastiar
Editor:

SOREANG EKSPRES – Tren kekerasan terhadap anak di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali meningkat pada awal 2026. Hingga Februari, tercatat 11 kasus, seluruhnya didominasi kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.

Data tersebut dihimpun Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) KBB sepanjang Januari hingga Februari 2026.

Pendamping Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak PPPA KBB, Deden Irwan, mengatakan mayoritas laporan yang diterima dalam dua bulan terakhir berkaitan dengan pelecehan seksual terhadap anak.

“Dalam dua bulan ini ada sekitar 11 laporan yang masuk dan hampir semuanya kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Ada juga yang masih dalam tahap konseling sebelum melangkah ke proses hukum,” ujar Deden saat dihubungi, Selasa (24/2/2026).

Kendati begitu, angka tersebut kata Deden merupakan laporan resmi yang masuk ke layanan pengaduan, sementara jumlah riil di lapangan diperkirakan bisa lebih tinggi karena tidak semua korban berani melapor. “Bisa saja lebih, 11 kasus itu laporan yang resmi masuk ke layanan pengaduan,” katanya.

Deden menjelaskan, salah satu kasus yang ditangani terjadi di Kecamatan Cipatat. Seorang siswi sekolah dasar diketahui hamil tujuh bulan setelah keluarga mencurigai perubahan kondisi fisiknya. Kasus itu terungkap setelah korban mengeluhkan sakit perut kepada kakaknya dan kemudian dilakukan pemeriksaan medis.

“Awalnya keluarga tidak menyangka. Setelah diperiksa tenaga kesehatan, ternyata usia kandungannya sudah tujuh bulan. Dugaan sementara, peristiwa itu terjadi berulang kali sejak 2024,” jelasnya.

BACA JUGA:  Dari Pemeriksaan hingga Operasi, JKN Dampingi Pengobatan Parida

Berdasarkan hasil pendampingan, pelaku diduga merupakan ayah tiri korban yang memanfaatkan situasi saat ibu korban bekerja. Selain ancaman, pelaku juga diduga memberikan iming-iming agar korban tidak menceritakan perbuatannya.

Saat ini korban mendapatkan pendampingan medis dan psikologis secara intensif, terutama menjelang proses persalinan. DP2KBP3A memastikan akan terus mendampingi korban hingga proses hukum terhadap pelaku berjalan. “Kondisi psikis korban sempat terpukul, namun perlahan mulai membaik. Kami terus memantau kesehatannya dan memastikan hak-haknya terpenuhi,” pungkas Deden.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP2KBP3A KBB, Rini Haryani, mengungkapkan tren peningkatan kasus kekerasan sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2021 tercatat 17 kasus, meningkat menjadi 56 kasus pada 2022, lalu 65 kasus pada 2023, dan 73 kasus pada 2024. Lonjakan signifikan terjadi pada 2025 dengan total 134 kasus dan 139 korban. “Terjadi peningkatan cukup tajam pada 2025. Mayoritas korban masih didominasi anak-anak, khususnya dalam kasus kekerasan seksual,” kata Rini.

Ia menambahkan, dari total kasus sepanjang 2025, kekerasan terhadap anak mencapai 57,7 persen. Sementara kekerasan terhadap perempuan dewasa sebesar 21,7 persen, kasus kekerasan dalam rumah tangga 19,5 persen, dan perdagangan orang 1,1 persen.

“Jika dilihat dari kelompok usia, sekitar 51,5 persen korban adalah anak-anak dan 48,5 persen dewasa. Anak-anak masih menjadi kelompok paling rentan,” ujarnya. “Kami mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika mengetahui atau mengalami kekerasan terhadap perempuan dan anak, agar korban dapat segera memperoleh perlindungan dan pendampingan secara menyeluruh,” tandasnya. (wit/rie)

BACA JUGA:  14 Tahun Mengabdi sebagai Mantri BRI, Dewi Bantu Bebaskan Warga Desa dari Jerat Rentenir di Lampung Selatan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *