SOREANG EKSPRES – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Bandung menetapkan tiga indikator utama sebagai prioritas program pada tahun 2026, yaitu jumlah kunjungan wisatawan, lama tinggal wisatawan (length of stay), serta besaran pengeluaran wisatawan (spending money).
Kepala Disparekraf Kabupaten Bandung, Wawan A Ridwan, menjelaskan bahwa ketiga indikator tersebut masih menjadi fokus utama, namun pihaknya akan lebih mengoptimalkan peningkatan durasi tinggal dan tingkat belanja wisatawan.
“Masih tiga indikator, dari sisi kunjungan wisatawan, kemudian length of stay, kemudian spending money. Jadi lama tinggalnya, belanjanya, kemudian jumlah kunjungannya,” ujar Wawan saat ditemui, Rabu (18/2/2026).
Ia menyebutkan bahwa aspek kunjungan wisatawan tetap penting, tetapi peningkatan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan perlu dimaksimalkan agar dampak ekonomi terhadap daerah semakin besar.
“Pergerakannya tinggi, besar, tapi lama tinggal dan belanjanya masih kurang optimal. Oleh karena itu ini menjadi potensi yang harus kita maksimalkan,” katanya.
Selain berfokus pada tiga indikator tersebut, Disparekraf juga memberikan perhatian pada penguatan sumber daya di sektor pariwisata, pengembangan desa wisata, serta peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Menurutnya, pelaku ekonomi kreatif merupakan masyarakat yang menjalankan aktivitas ekonomi berbasis kreativitas, sehingga perlu peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemasaran, hingga perluasan akses pasar.
“Bagaimana dia meningkatkan kualitas, bagaimana meningkatkan pemasaran, termasuk bagaimana memperluas pasar yang ada di Indonesia, tidak hanya sifatnya lokal saja,” jelasnya.
Terkait masih rendahnya lama tinggal wisatawan, Wawan mengakui banyak faktor yang memengaruhi, tidak hanya kondisi lokal, tetapi juga daya beli masyarakat hingga situasi ekonomi secara umum.
Selain itu, faktor cuaca ekstrem juga menjadi pertimbangan penting, terutama karena karakter wisata Kabupaten Bandung yang didominasi wisata alam.
“Pada saat cuaca rawan, misalnya angin puting beliung, wisatawan ini agak sedikit berhati-hati saat datang ke destinasi wisata alam,” ujarnya.
Disparbud pun mengimbau masyarakat dan pelaku usaha wisata untuk tidak memaksakan aktivitas ketika kondisi cuaca tidak mendukung. Hal itu demi menjaga keselamatan wisatawan maupun pelaku usaha.
“Kita menghimbau pada saat cuaca ini tidak dalam posisi yang ramah, untuk tidak memaksakan. Otomatis usaha wisata seperti arung jeram tidak banyak diakses, kemudian kegiatan usaha di ruang terbuka juga akan berhati-hati,” katanya.
Ia mencontohkan risiko seperti pohon tumbang, angin kencang, hingga hujan deras yang kerap menjadi pertimbangan wisatawan untuk menunda kunjungan.
Di sisi lain, keterbatasan akomodasi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi lama tinggal wisatawan. Wawan menyebut, ketersediaan hotel di Kabupaten Bandung masih terbatas dan daerah ini lebih berfokus pada wisata alam ketimbang wisata perkotaan.
“Kalau daerah kota besar biasanya wisata belanja, kuliner, hiburan, dengan akomodasi yang lengkap. Kalau kita lebih fokus ke wisata alam,” ungkapnya.
Memasuki awal tahun 2026, Disparbud juga mencatat adanya penurunan kunjungan wisatawan. Kondisi ini dipengaruhi musim hujan yang masih tinggi serta momentum menjelang Ramadan.
“Sekarang lagi low season, menjelang puasa juga. Hujan masih tinggi curahnya. Apalagi kemarin Imlek, sebentar lagi puasa. Pasti ada kondisi di mana kunjungan wisatawan dan pendapatan pelaku usaha wisata sedang menurun,” tandasnya.













