SOREANG EKSPRES – Harga dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah pada Rabu, 17 Juni 2026, berada di kisaran Rp17.630 hingga Rp17.808, tergantung sumber kurs yang digunakan. Penguatan rupiah ini menjadi kabar positif setelah sebelumnya nilai tukar sempat melemah hingga menembus level Rp18.190 per dolar AS.
Berdasarkan data kurs transaksi Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah berada di level Rp17.630,40 per USD untuk kurs beli dan Rp17.807,60 per USD untuk kurs jual. Sementara itu, kurs e-Rate Bank Central Asia (BCA) tercatat di Rp17.670 untuk kurs beli dan Rp17.760 untuk kurs jual. Di Bank Negara Indonesia (BNI), kurs beli berada di level Rp17.660 dan kurs jual Rp17.760.
Di pasar global, data Trading Economics menunjukkan harga dolar AS hari ini terhadap rupiah berada di sekitar Rp17.742,2 pada perdagangan 16 Juni 2026.
Secara harian, rupiah mengalami penguatan sekitar Rp47,20 atau 0,27 persen dibandingkan hari sebelumnya. Dalam periode bulanan, rupiah juga menguat sekitar 0,43 persen. Meski demikian, secara tahunan mata uang Garuda masih tercatat melemah sekitar 8,50 persen terhadap dolar AS.
Pemulihan nilai tukar rupiah pada Juni 2026 didorong oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Kebijakan ini meningkatkan daya tarik instrumen investasi domestik, terutama Surat Berharga Negara (SBN), sehingga mampu menarik kembali aliran modal asing.
Selain itu, Bank Indonesia juga aktif melakukan intervensi di berbagai pasar keuangan, mulai dari pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar obligasi. Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar dan mengurangi volatilitas yang berlebihan.
Faktor eksternal juga turut memberikan dukungan. Sentimen pasar global membaik seiring melemahnya dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia. Berkurangnya ketidakpastian ekonomi global serta data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan turut mendorong investor mencari alternatif investasi di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang solid. Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,12 persen, inflasi yang terjaga rendah, serta stabilitas fiskal yang baik menjadi faktor penting yang meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Masuknya kembali aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia juga menjadi pendorong tambahan bagi penguatan rupiah. Dengan kombinasi kebijakan moneter yang tepat dan kondisi ekonomi yang relatif stabil, nilai tukar rupiah berpeluang mempertahankan tren penguatannya dalam jangka pendek.*









